Selama Yesus hidup di dunia ini, satu hal yang selalu ditentang dan ingin disingkirkan oleh Yesus dari dalam hidup orang-orang percaya adalah manifestasi roh agamawi.

Tanpa sadar, kita pun seringkali mungkin memanifestasikan roh agamawi tersebut dalam hidup kita, akan tetapi hal ini tidak boleh terus dibiarkan, karena ketika roh agamawi mulai termanifestasi, secara perlahan tapi pasti kita mulai kehilangan hakekat kehidupan Roh. Salah satu alasan penting mengapa Yesus selalu menentang manifestasi roh agamawi adalah karena ketika roh agamawi mulai termanifestasi dalam hidup seseorang, sejak saat itu juga manifestasi kuasa Roh terhenti dari hidup orang tersebut.
Yang Tuhan kehendaki adalah agar dari setiap kita, kuasa Roh Kudus akan terus termanfestasi dan mengalir secara nyata.

“Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga” (Mat. 5:20)

Sesungguhnya kata “masuk ke dalam Kerajaan Sorga” dalam ayat di atas bukan berbicara tentang Sorga sebagai tempat peristirahatan orang-orang percaya setelah meninggal.
Yang dimaksud “Kerajaan Sorga” di sini artinya: kita dibawa oleh Tuhan untuk memasuki suatu dimensi ilahi, di mana Kristus akan menjadi sangat nyata dengan segala kemuliaan-Nya lewat hidup kita. Kerajaan Sorga yang dimaksud di sini adalah saat kita hidup di bumi ini, sehingga setiap kita sebagai orang percaya akan dapat memanifestasikan kehidupan Kerajaan Sorga; lewat hidup kita Kristus dengan segala kuasa dan kemuliaan-Nya akan menjadi sangat nyata.
Akan tetapi, Alkitab berkata bahwa kita tidak akan dapat mengalami manifestasi dari kepenuhan Kristus di muka bumi ini jika hidup kita tidak lebih baik [benar] dari para ahli Taurat dan orang-orang Farisi.

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan “hidup kita tidak lebih benar dari para ahli Taurat dan orang-orang Farisi”? Maksudnya adalah, mereka melakukan segala sesuatunya hanya sebagai suatu rutinitas keagamawian belaka. Tuhan menghendaki agar sebagai orang-orang percaya kita dapat memanifestasikan hakekat kehidupan Roh, bukan sekedari kebiasaan atau rutinitas keagamawian belaka.
“Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga. Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Matius 6:1-4)

Ayat di atas sesungguhnya tidak ada sangkut pautnya dengan masalah memberi; yang dimaksud oleh ayat di atas adalah ketika Anda memberi atau melakukan sesuatu, pastikanlah engkau melakukannya karena Roh menggerakkan Anda – bukan karena kewajiban agamawi belaka.
“Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Mat. 6:5-6)
Sebenarnya jika kita membaca dari Matius pasal lima dan enam ini, segala sesuatu yang Yesus katakan tentang hidup beribadah, berdoa, memberi sedekah, tidak ada sangkut pautnya dengan melakukan aktivitas tersebut dengan sembunyi-sembunyi. Yang dimaksud oleh Yesus adalah jika kita melakukan segala sesuatu yang kita sebut sebagai ‘ibadah’, jangan pernah melakukannya dengan keagamawian, tetapi lakukannya karena Roh Kudus-Nya yang menggerakkan kita. Karena, segala sesuatu yang kita lakukan yang bersumber dari roh agamawi sifatnya hanyalah untuk menarik keuntungan manusiawi bagi diri kita sendiri – supaya kita dipuji oleh orang lain. Itulah yang dimaksud Yesus dengan “mereka sudah mendapat upahnya.”
Alasan mengapa Tuhan menentang hal-hal yang kita lakukan yang didasarkan oleh roh agamawi adalah karena segala sesuatu yang dilakukan dengan dasar keagamawian tidak akan menghasilkan dampak, padahal Tuhan menghendaki agar apapun yang kita kerjakan dapat menghasilkan dampak yang besar.

Prinsip kerja roh agamawi:
1. Roh agamawi dimanifestasikan oleh orang-orang yang justru terlihat sangat rohani tapi tidak memiliki kehidupan Roh.
Yang Tuhan ingin tekankan dalam hal ini adalah, pastikanlah bahwa sebagai orang-orang percaya, kita selalu memiliki kehidupan Roh dalam diri kita. Tuhan tidak menghendaki kita melakukan sesuatu hanya sebagai rutinitas, kebiasaan, ataupun hanya untuk dipuji oleh orang lain sebagai orang yang rohani. Saya mendapati, jika dari ke waktu kita terus menjagai kehidupan Roh dalam diri kita, kita akan alami Roh-Nya mulai menggerakkan kita untuk bertindak: Roh menggerakkan kita untuk berdoa, berpuasa, menyembah, memberi, melakukan sesuatu, dll. Karena itu, pastikan segala sesuatu yang akan kita kerjakan semuanya karena digerakkan oleh Roh-Nya, sebab jika tidak, tanpa sadar kita sedang memanifestasikan keagamawian.

2. Roh agamawi akan membuat seseorang merasa lebih rohani atau lebih dekat dengan Tuhan, dengan cara melakukan sesuatu atau mengalami penderitaan-penderitaan tertentu.
Sebagai contoh, ada orang-orang percaya tertentu yang meskipun dari waktu ke waktu terus menjaga persekutuannya dengan Tuhan dan hakekat kehidupan Roh terus mengalir dalam hidupnya, namun hanya karena mereka tidak sempat/lupa berdoa dalam satu hari, mereka lalu merasa bersalah, merasa berdosa, dan merasa jauh dari Tuhan. Ini menunjukkan ada sesuatu yang salah dengan orang percaya tersebut. Tanpa sadar, orang percaya yang bersangkutan sedang ‘dilatih’ oleh roh agamawi untuk melakukan hal-hal tertentu agar ia dapat dekat dengan Tuhan, padahal persekutuan dengan Tuhan sebenarnya adalah hal yang sangat normal dan sangat wajar.
Satu hal yang kita harus sadari, selama kita terus membangun persekutuan kita dengan Dia, berjalan dalam ketaatan dan hidup dalam kebenaran, kita akan selalu dekat dengan Dia. Demikian pula jika kita mulai keluar dari kebenaran, secara otomatis kita pun akan mulai kehilangan Dia. Karena itu, semakin kita terus menyelaraskan hidup kita dengan kebenaran, semakin Tuhan akan menjadi dekat dengan kita. Hal ini disebabkan karena ketika Dia menjadikan manusia, Dia memberikan kualitas hidup tertentu dalam diri manusia yang membuat Dia sendiri rindu untuk bersekutu dengan manusia. Tanpa kita terus menyelaraskan hidup kita dengan kebenaran, tidak perduli aktivitas rohani apapun yang kita lakukan, berapa lamapun kita berdoa dan berpuasa, semua itu hanya akan sia-sia belaka dan tidak menghasilkan dampak apa-apa.

3. Roh agamawi membuat seseorang memandang rendah orang-orang lain yang tidak melakukan aktivitas rohani yang sama seperti dirinya, atau di sisi yang lain, membuat seseorang merasa bersalah jika ia menemui adanya orang-orang lain yang melakukan suatu aktivitas rohani tertentu melebihi dirinya.
Manifestasi roh agamawi akan selalu membuat kita merasa lebih dari yang lain oleh karena apa yang sudah kita lakukan. Sebagai akibatnya, kita akan dengan mudah memandang rendah orang-orang yang kita anggap berada di level rohani di bawah kita. Padahal, yang Tuhan kehendaki adalah agar kita dapat ‘menarik’ dan membawa orang itu naik menjadi seperti kita. Roh agamawi juga akan membuat kita menjadi terpacu untuk bersaing dengan orang lain, tapi dalam konotasi yang salah. Karena itu saya ingin Anda menyadari, jika Tuhan memberi lebih kepadamu, tujuannya adalah agar engkau bisa membagikannya kepada orang-orang lain dengan sukacita.

4. Roh agamawi membuat seseorang lebih mengutamakan aktivitas atau kesibukan dari pada persekutuan dengan Tuhan.
Hal ini biasanya akan termanifestasi sangat nyata di antara orang-orang percaya yang sudah terlibat dalam pelayanan, khususnya para hamba Tuhan dan full-timer. Seringkali, ketika Tuhan justru sedang menyuruh kita untuk berdiam diri dan banyak belajar dari firman-Nya, kita malah merasa seakan-akan tidak berbuat apa-apa bagi Tuhan dan Dia tidak lagi memakai hidup kita. Sebagai akibatnya, bukannya kita menaati apa yang Dia perintahkan untuk kita berdiam diri, kita justru akan mulai menyibukkan diri dengan berbagai jenis aktivitas dan pelayanan. Padahal, dengan bertindak demikian, kita justru sedang melangkah di dalam ketidaktaatan, dan roh agamawilah yang membuat kita menjadi tidak taat.
Saya mendapati bahwa sebagai hamba Tuhan dan full-timer, ada masa di mana Tuhan akan menyuruh kita untuk duduk diam di bawah kaki-Nya, dan ada masa di mana Tuhan juga akan memerintahkan kita untuk mulai bertindak. Masalahnya, kadangkala kita tidak mau tahu dengan hal tersebut, apalagi jika kita telah cukup dikenal sebagai hamba Tuhan yang diurapi. Satu hal yang harus kita sadari, kesibukan bukanlah bukti bahwa kita dipakai oleh Tuhan karena iblis pun bisa membuat kita menjadi sangat sibuk.
Karena itu, belajarlan untuk dengar-dengaran dengan apapun yang Tuhan suruh untuk kita lakukan, dan taati perintah tersebut. Bahkan jika Tuhan menyuruh kita untuk berdiam diri, justru itulah masa di mana kita sedang diselaraskan, dibentuk ulang dan diperlengkapi oleh sorga, sehingga ketika Tuhan memberikan tugas yang sesungguhnya kepada kita, dampak yang akan kita hasilkan permanen sifatnya. Ketika Tuhan tidak menyuruh Anda untuk melakukan apa-apa, sesungguhnya Ia sendiri sedang ingin berurusan dengan Anda secara pribadi. Saya mendorong Anda untuk banyak berdiam di dalam hadirat-Nya dan dengar suara-Nya, karena itulah yang akan menolong Anda untuk mengalami terobosan yang lebih besar lagi.

5. Roh agamawi akan membuat seseorang jadi mudah tersinggung dan merasa berkewajiban untuk melakukan pembelaan apabila simbol-simbol keagamaannya diganggu.
Ketika ada orang yang mulai mengganggu atau melecehkan lewat perkataannya tentang tanda salib, Alkitab, atau tata cara ibadah kita, apakah hal tersebut membuat Anda tersinggung dan tertantang untuk melawan orang tersebut? Saya harap tidak, karena Tuhan tidak membutuhkan pembelaan kita – Dia tahu bagaimana cara membela diri-Nya sendiri. Orang-orang radikal yang segera naik pitam ketika simbol-simbol keagamaannya diganggu menunjukkan bahwa orang tersebut sesungguhnya sedang dikuasai oleh roh agamawi. Roh agamawi membuat seseorang merasa berkewajiban untuk membela ketika ada yang mengganggu atau menyinggung agama/kepercayaannya.
Meskipun Tuhan tidak membutuhkan pembelaan kita, bukan berarti kita boleh bersikap cuek terhadap simbol-simbol keagamaan kita. Yang ingin saya tegaskan adalah, kita tidak boleh menganggap simbol-simbol tersebut sebagai sesuatu yang sakral dan harus ada. Kita harus menyadari bahwa simbol-simbol keagamaan tidak menjamin kehadiran Tuhan. Dengan demikian, ketika ada pihak-pihak tertentu yang mungkin merasa terganggu dengan simbol keagamaan yang kita miliki, kita dapat dengan mudah mencopotnya tanpa merasa berdosa. Yang kita tahu adalah, selama kita terus berjalan dalam kebenaran, Tuhan pasti selalu dekat dengan kita dan kehadiran-Nya nyata dalam hidup kita.

6. Roh agamawi membuat orang yang bersangkutan mulai menghargai asesori-asesori keagamaannya dengan cara yang berlebihan.
Seringkali kita mengkritik gereja-gereja ortodox karena penghargaan mereka yang berlebihan terhadap asesori keagamaan mereka, yaitu dengan cara memasang tanda salib yang besar di depan gereja, ataupun lewat liturgi dan tata cara ibadah yang mereka lakukan. Padahal, di kalangan gereja-gereja karismatik sendiri, tanpa sadar kitapun seringkali memanifestasikan roh agamawi melalui tata cara berpakaian pelayan Tuhan dan tata cara ibadah yang kita sendiri buat. Suatu waktu, saya pernah disuruh melepas sepatu saya sebelum naik ke atas mimbar untuk berkhotbah, karena gereja lokal tersebut menganggap mimbar mereka sebagai ruang maha kudus, seperti halnya Musa dan Yosua yang harus melepas kasut mereka ketika bertemu Tuhan – itulah realita keagamawian yang kita hadapi.
Sebagai Gereja Tuhan, kita harus mulai menyadari bahwa segala tata cara ibadah dan peraturan yang kita buat secara manusiawi tidak pernah menjamin kehadiran Tuhan, karena yang menjadi titik penentu sesungguhnya adalah kehidupan Roh. Ketika aliran kehidupan Roh ada, segala sesuatu yang kita lakukan akan menarik turun perkenanan Tuhan dalam hidup kita.

7. Roh agamawi akan membuat seseorang jadi mudah terjebak dalam praktek klenik atau mistik Kristen.
Orang-orang yang agamawi seringkali memanifestasikan hal ini dengan cara menyimpan roti/anggur perjamuan kudus, meminta hamba Tuhan tertentu mendoakan minyak yang mereka bawa untuk lalu disimpan di rumah dan disakralkan sebagai minyak urapan, dan berbagai klenik Kristen lain yang mereka lakukan.

8. Roh agamawi memberi peluang atau memberikan alasan-alasan rohani untuk seseorang tetap tinggal di zona nyaman yang ia miliki, dan melarikan diri dari berbagai fakta hidup yang harus dihadapi.
Seringkali, seorang isteri/suami yang mungkin memiliki masalah dengan pasangannya berpikir bahwa lebih banyak berdoa akan membuat pasangannya berubah. Alkitab dalam 1 Petrus 3 justru memberitahukan kepada kita bahwa sebagai isteri [atau suami] yang rindu untuk melihat pasangannya berubah, kita justru harus lebih banyak berbuat sesuatu – bukan sekedar omongan belaka. Kadangkala sebagai kaum wanita, kita merasa ditakdirkan untuk banyak berbicara. Ini saatnya kita menyadari bahwa sebagai wanita, Tuhan memanggil kita untuk lebih banyak bertindak. Ini waktunya kita berhenti berbicara tentang Yesus dan mulai bertindak seperti Yesus. Sudah terlalu banyak orang yang hanya bisa berbicara tapi tidak pernah bertindak.

Karena itu saya mendorong Anda, jangan biarkan roh agamawi mulai memberikan alasan-alasan tertentu kepadamu, hanya untuk membuat Anda tetap tinggal di zona nyaman dan tidak mau menghadapi realita yang ada. Tanpa disadari, masalah-masalah yang terjadi di dalam keluarga seringkali justru disebabkan karena diri kita sendiri, karena kita tidak berfungsi seperti yang Tuhan kehendaki dan tidak menunjukkan teladan dari kebenaran yang sudah kita terima. Ini saatnya kita berhenti menggunakan alasan-alasan rohani yang bersumber dari roh agamawi, hanya untuk melarikan diri dari realita yang harus kita hadapi. Jangan sampai pelayanan yang kita lakukan membuat kita kehilangan keluarga kita. Belajarlah untuk membagi waktu dengan benar, jagai keseimbangan hidup yang kita miliki, dan mulailah bangun keluarga yang kuat dan sehat. Dengan kita berfungsi seperti yang Tuhan mau dan melakukan apa yang menjadi bagian kita, Dia pun akan melakukan apa yang menjadi bagian-Nya.

Tuhan memberkati.. ^_^

From : Pdt. Victor Lie