Seseorang dapat mengalami ketertolakan dalam lingkungan keluarganya.
Mungkin karena dia merupakan anak hasil hubungan gelap, mungkin karena kelahirannya tidak diharapkan, mungkin karena kemiskinan melanda, mungkin karena merupakan anak seorang pelacur, dan lain sebagainya.
Anak yang mengalami ketertolakan akan bertumbuh dalam kekerasan dan cenderung ke arah yang tidak baik dan tidak mempunyai masa depan.
Bisa dibayangkan bagaimana sebenarnya keadaan orang yang tertolak yaitu sakit hati dan ada kebencian dalam hatinya.
=========================================================================================

Tidak demikian halnya dengan Yefta yang merupakan anak seorang perempuan sundal, yang mengalami ketertolakan dalam lingkungan keluarganya. Dia dibuang oleh ibu tirinya dan tidak mendapat bagian warisan sebagaimana halnya anak laki-laki dalam lingkungan orang Yahudi.
Sebagaimana orang yang tertolak dan tidak diinginkan dalam keluarga sering mengalami hidup yang keras, demikian juga Yefta mengalami kehidupan yang penuh dengan kekerasan karena bergabung dengan petualang-petualang untuk ikut merampok (Hakim-hakim 11:3).
Namun di balik semuanya itu, dia adalah seorang yang selalu menaruh permasalahannya kepada Tuhan. (Hakim-hakim 11:11)

Saudara, memperhatikan cerita dari kisah Yefta kita dapat belajar bahwa walaupun dia tertolak dalam keluarga, walau tak seorang pun keluarga mau bergaul atau berteman dengan dia, dia dibuang, disakiti, dikucilkan, tapi tidak ada dendam dalam hatinya.
– Yefta mau menjaga hubungannya dengan Tuhan dan selalu menyerahkan seluruh permasalahannya kepada Tuhan.
Ketika dia diperhadapkan dengan permasalahan bangsa Amon oleh keluarga yang telah membuangnya.
– Yefta tidak mementingkan diri sendiri dengan melihat masa lalunya, tapi dia menatap suatu masa depan yang akan menjadikan dia sebagai pemimpin bangsanya.
– Yefta berpikir bahwa apabila dia tetap dalam sakit hatinya, apabila dia tetap dalam dendamnya, maka masa depannya akan begitu-begitu saja dan tidak berguna bagi orang lain.

Maka dia bangkit dari masa lalunya dan mau memenuhi panggilannya sebagai pemimpin bangsa Israel untuk mengalahkan bangsa Amon. Dan sebagaimana kita ketahui bahwa di bawah kepemimpinannya, bangsa Israel berhasil mengalahkan bangsa Amon (Hakim-hakim 11:33).

Ini semua terjadi karena dia bangkit dan menatap masa depannya bersama dengan Tuhan.
Oleh karena itu, mari kita seperti Yefta yang mau bangkit dari kehidupannya yang lama dan menatap masa depan yang penuh dengan harapan bersama Tuhan.

** Selalu mengucap syukurlah dalam segala keadaan.
Banyak yang sakit hati, marah, menderita ataupun putus asa dan merasa tertolak. Tetapi, Tuhan menyediakan kasih yg tulus dan tanpa pamrih ini. Asalkan kita bersedia dan mau dipakai oleh Tuhan, bersedia menjadi alat penyebar kasihNya, maka kita akan memperoleh kasih itu dari Tuhan.

DOA: Tuhan, ajarkan aku makin memancarkan kasihMu dari hari ke hari kepada sesamaku. Bukan sekedar agar aku balik dicintai, tetapi agar orang yang kucintai merasakan indahnya kasih yang bersumber dariMu saja. Pancarkan kasihMu dalam dunia ini Tuhan, aku bersedia Kau pakai menjadi salah satu alat pemancar kasihMu, agar dunia tahu, bahwa kasihMu tulus dan indah. Aku tahu aku tidak sempurna, aku sering egois dan mengasihi diriku sendiri ataupun menuntut pamrih. Tapi aku ingin belajar untuk makin menyerupaiMu saja. Mengasihi tanpa menuntut. Mengasihi dengan tulus. Aku ingin belajar makin mengasihiMu dan orang lain. Aku ingin makin sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak sombong, tidak pemarah, tidak menyimpan dendam dan jujur. Bentuklah aku dari hari ke hari, dan ingatkan aku saat ku jatuh. Terima kasih Tuhan. Amin.

Tuhan Yesus memberkati. Amin